KOLABORASI BERSAMA, PAM JAYA IKUT BANGUN TEMPAT OLAHAN SAMPAH SUNGAI

KOLABORASI BERSAMA,  PAM JAYA IKUT BANGUN TEMPAT OLAHAN SAMPAH SUNGAI

Sabtu, 27 Juni 2020. PAM JAYA bersama Gerakan Ciliwung Bersih dan para perusahaan kolaborasi mengadakan acara peresmian Tempat Olahan Sampah Sementara (TOSS GCB) secara terbatas di rumah bersama Gerakan Ciliwung Bersih. TOSS GCB diresmikan dan ditandatangani bersama oleh :

  1. Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, M.R. Karliansyah
  2. Ketua Gerakan Ciliwung Bersih, Peni Susanti
  3. Direktur Utama PAM JAYA, Priyatno Bambang Hernowo
  4. Direktur Utama PT. Indonesia Power, Ahsin Sidqi
  5. General Manager Corporate Communication PT. Indofood Sukses Makmur Tbk, Bpk Stephanus Indrayana

Acara juga diisi dengan kegiatan  sosialisasi dan demonstrasi metoda TOSS-GCB yang dilakukan secara virtual setelah pelaksanaan peresmian.

TOSS GCB ini merupakan alat yang mampu mengolah sampah Sungai menjadi energi dalam bentuk briket/pelet.  Briket/ Pelet tersebut bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar sehari-hari sebagai pengganti minyak tanah bahkan LPG.  Secara khusus, program ini dirancang untuk mengolah sampah Sungai menjadi listrik dan diperuntukkan bagi masyarakat di sepanjang aliran Sungai Ciliwung dengan produk akhirnya adalah syntetic gas (syngas) yang mampu menjadi substitusi bahan bakar untuk genset/diesel.

Tidak hanya PAM JAYA, TOSS GCB ini juga menjadi sarana kolaborasi antara Pemerintah pusat melalui kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan; Pemerintah provinsi DKI Jakarta; Badan Usaha Milik Negara melalui anak usaha PT PLN (Persero) yaitu PT Indonesia Power; perusahaan swasta yaitu PT Indofood; serta startup company di bidang supply-value chain energi baru dan terbarukan bernama comestoarra.com.

Menurut Ketua Gerakan Ciliwung Bersih (GCB), Peni Susanti, bahwa Sungai Ciliwung telah lama dimanfaatkan sebagai bahan baku pengolahan air oleh PAM JAYA namun sayangnya Sungai Ciliwung yang diharapkan mampu menjadi salah satu simbol dan etalase kota Jakarta telah tercemar oleh sampah, baik plastik, domestik rumah tangga, dan juga biomassa. Peni berharap dengan adanya TOSS-GCB, maka usaha  yang selama ini dilakukan tidak terbatas pada kegiatan pembersihan sampah yang telah masuk Sungai saja, namun dapat ditingkatkan menjadi usaha pencegahan dan pendidikan yang dilakukan oleh setiap Komunitas Peduli Ciliwung agar masyarakat tidak membuang sampah ke Sungai tapi ke unit TOSS GCB.

Peni menambahkan bahwa dengan berkurangnya sampah yang masuk Sungai, maka pemulihan air yang tercemar akan menjadi lebih cepat. Selain itu, masyarakat sepanjang Sungai juga akan mendapat manfaat dari air bersih yang berasal dari Sungai Ciliwung yang telah dijernihkan menggunakan energi yang berasal dari sampah Sungai itu sendiri. Melalui TOSS-GCB, setidaknya diperoleh manfaat untuk 3 (tiga) hal: Pertama, adalah MCK sehingga mampu meminimalisir pendangkalan sumur akibat eksplorasi air tanah yang sangat besar; Kedua adalah memanfaatkannya untuk mencuci mesin, perkakas, kendaraan; Ketiga, menyiram tanaman dan mampu menjadi sumber air untuk pertanian sayur mayur ramah lingkungan pada instalasi vertikultur. Peni menegaskan bahwa tujuan dari TOSS-GCB adalah membersihkan sampah dan kembali pada visi GCB untuk menjadikan Sungai Ciliwung sebagai sumber air bersih. Oleh karenanya, listrik sebagai produk TOSS GCB merupakan  bonus atas upaya seluruh stakeholders dalam menyolusikan permasalahan Sungai khususnya di Ciliwung.

Direktur Utama PAM JAYA, Priyatno Bambang Hernowo menjelaskan bahwa PAM JAYA berkomitmen untuk mendukung program peduli lingkungan yang digagas oleh para pecinta lingkungan seperti Gerakan Ciliwung Bersih. Harapannya melalui TOSS GCB, masyarakat bisa memiliki alternatif pengolahan sampah yang mudah, praktis dan memiliki nilai manfaat lebih sehingga pada akhirnya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak langsung membuang sampah kesungai.

Solusi Permasalahan Sampah karya Anak Bangsa

TOSS GCB adalah konsep pengolahan sampah (rumah tangga dan biomassa) berbasis komunitas/masyarakat yang digagas oleh Supriadi Legino dengan menggunakan teknologi peuyeumisasi (Biodrying), hasil karya inovasi Sonny Djatnika Sundadjaja. Proses TOSS-GCB dimulai dengan memasukkan sampah kedalam box bambu berukuran 2x1,25 x1,25 m3 (setara dengan 1 ton sampah) tanpa perlu  yang merepotkan. Sampah dalam bambu tersebut kemudian disiram dengan biokativator yang akan membuat sampah menyusut hingga 50 persen dan mengering dengan tingkat moisture dibawah 20 persen dalam waktu 7 hari. Selanjutnya sampah yang telah melalui proses peuyeumisasi tersebut siap untuk  dijadikan bahan baku energi berupa briket/pelet dengan nilai kalori setara dengan batu bara. Supriadi mengatakan bahwa briket/pelet batu bara nabati tersebut bisa digunakan sebagai substitusi batu bara yang dikonsumsi industri dan pembangkit listrik. Saat ini PLN sudah menerbitkan peraturan direksi untuk penggunaan biomasa sebagai cofiring pada pembangkit listrik tenaga uap dengan persyaratan teknik dan lingkungan yang ditentukan. Selanjutnya sangat diperlukan dukungan Pemerintah berupa kemudahan agar briket/pelet TOSS produk masyarakat ini dapat diperjual belikan untuk dimanfaatkan dalam kebutuhan sehari-hari. Namun sambil menunggu keberpihakan Pemerintah tersebut, briket/pelet produk TOSS GCB tersebut dapat digunakan sendiri oleh masyarakat setempat dengan mengkonversi menjadi syngas melalui proses gasifikasi yang selanjutnya menurut Supriadi mampu menjadi substitusi bensin pada genset atau solar pada mesin disel, dan listriknya bisa untuk menjernihkan air untuk keperluan MCK.

TOSS GCB yang merupakan karya anak bangsa ini juga memiliki nilai luhur bagi masyarakat, komunitas, Pemerintah, dan perusahaan dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan karena selain dapat mengurangi penggunaan energi fosil, TOSS juga bisa menjadi alternatif solusi permasalahan sampah yang kritis karena terbatasnya kapasitas TPA. Hal ini merupakan kontribusi besar untuk mengurangi emisi Green House Gasses (GHG) atau gas rumah kaca (GRK) karena berkurangnya gas methan yang berasal dari tumpukan sampah di TPA. Dari sisi sosial, model TOSS GCB yang sepenuhnya menggunakan teknologi dan peralatan dalam negeri  tersebut dapat memberdayakan masyarakat sekitar dan membuka lapangan kerja baik sebagai operator unit unit TOSS GCB maupun industri pendukungnya. 

Penanganan sampah khususnya di daerah ibukota umumnya memakai metode 3P (pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan). Seiring berjalannya waktu, maka banyak teknologi untuk mengolah sampah tersebut, diantaranya metoda kompos, black soldier fly (Hermetiaillucens), digester, hingga daur ulang sampah plastik. Tetapi untuk sampah Sungai, terdapat kendala di sisi pengumpulan dan pengangkutan sampah terutama bila sampah tersebut berjenis biomassa dengan dimensi besar dan padat sehingga pengolahannya menjadi tantangan tersendiri. Menurut Ahmad Jidon, pengawas Sungai Ciliwung di wilayah tanah abang, sebagian besar sampah adalah kiriman dengan jenis biomassa seperti kayu, bambu, dan belukar rerumputan. Dengan program TOSS-GCB yang membutuhkan bahan baku dari sampah biomasa,  permasalahan tersebut bisa terjawab bahkan bisa memberikan nilai tambah berupa energi panas dan energi listrik, sehingga sampah tidak mengalir dan menumpuk di hilir Sungai.

Selanjutnya, unit TOSS-GCB yang berlokasi di sekertariat GCB, akan dijadikan tempat pelatihan dan wisata lingkungan dimana kegiatan perdananya akan dimulai awal Juli 2020 dengan prioritas untuk para penggiat KPC. Informasi terkait pelatihan TOSS-GCB dapat menghubungi koordinator TOSS-GCB, Arief Noerhidayat melalui e-mail: arief.noerhidayat@comestoarra.com atau dapat mengujungi situs www.toss-gcb.org .