Serba Serbi

FILOSOFI AIR

Filosofi Air

Oleh Mochamad Walid

Dalam sains, air diterangkan sebagai sebuah substansi kimiawi yang terdiri dari senyawa oksigen dan Hidrogen. Dalam suhu ruangan air dapat melarutkan substansi lain seperti garam, gula dan lain-lain. Air adalah satu-satunya senyawa kimia yang unik di muka bumi ini karena memiliki sifat anomaly. Yang mana jika pada zat yang lain akan menyusut jika suhu berkurang, air justru memuai jika suhunya berkurang. Dan secara kasat mata, apabila kita inginmengetahui berat jenis sebuah benda yang kita temui, dengan ditaruh diatas permukaan air, maka kita akan mengetahui, berapa kira-kira berat jenis benda tersebut, mengapung atau tenggelam? Sementara itu, sebagian besar permukaan planet bumi ini tertutup oleh air. Sehingga air kemudian menjadi media tranportasi yang telah digunakan manusia sejak dimulainya peradaban di muka bumi ini hingga sekarang.

Jika dibandingkan zat lain yang ada dimuka bumi ini, air adalah benda yang tidak pernah habis karena mengalami siklus yang spesifik dari cair bisa menjadi padat atau gas dan bisa mencair kembali. Sehingga air adalah benda yang seolah –olah ‘abadi’ di muka bumi ini. Benda lain yang memiliki sifat liquid (cair) misalnya minyak bumi. Benda itu tidak mengalami siklus dan tidak bisa diperbaharui. Sekali benda itu digunakan, maka akan menyisakan carbon dan tidak memungkinkan kembali menjadi minyak lagi. Sedangkan untuk memperoleh air, kita tidak perlu melakukan eksplorasi. Kita cukup pergi ke sungai atau telaga akan melihat air yang melimpah. Di musim penghujan bahkan air tercurah dari langit begitu saja.

Air adalah benda yang paling memberi manfaat kepada kehidupan dan hanya ada di planet bumi. Dari sekian ratus juta planet yang ada di galaxy Bima Sakti, sampai saat ini air baru diketahui hanya berada di planet bumi. Oleh karena itu air merupakan simbul dari kehidupan. Artinya, kehidupan segala mahluk hidup dimuka bumi ini tergantung pada air. Namun cara memanfaatkan air bagi kehidupannya, antara manusia dan mahluk lainnya berbeda. Jika ikan gabus bisa hidup di dalam kubangan air yang kotor, ternyata manusia tidak. Manusia harus memprosesnya untuk memanfaatkannya karena manusia mengetahui, bahwa air bisa melarutkan segalam macam zat yang tidak mungkin dikonsumsi manusia.

Lantas apa yang menarik dari air jika dibahas setelah mengetahui eksistensi air menurut sains dan kesehatan bagi manusia? Tampaknya, pertanyaan ini akan membawa pikiran kita tentang air yang semula memahami sesuai sifat kimiawinya menuju pemahaman tentang air dalam kaitannya dengan makna simboliknya. Makna simbolik itu adalah makna yang hanya bisa ditangkap oleh akal budi yang tidak membutuhkan riset di laboratorium. Makna simbolik akan dapat dihayati saat merenungkan keberadaannya sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Mengapa air diciptakan Tuhan sedemikian melimpah sebagaimana udara (oksigen) yang juga melimpah ruah oleh Tuhan? Mengapa Tuhan tidak menciptakan makanan (padi) sebagai mana air yang tinggal mengambil di danau atau sungai ? Itulah kira-kira salah satu cara manusia berkontemplasi untuk memperoleh makna terhadap apa yang dilihat atau dirasakannya.

Kita tentu akan kesulitan menjawabnya, mengapa Tuhan tidak menciptakan makanan yang melimpah dan tinggal mengambil di sungai atau tercurah dari langit begitu saja seperti air? Sulitnya mencari jawaban yang pasti sebagaimana sains itulah yang akan menuntun kesadaran manusia, bahwa penciptaaan alam semesta dan seisinya ini tidak ngawur (acak). Bahkan Fisikawan abad 20 yang paling tersohor Albert Einstein pernah berucap, bahwa Tuhan tidak bermain dadu dengan penciptaannya. Dengan kata lain, Tuhan merencanakan segala sesuatu atas segala ciptaannya hingga sedetail-detailnya. Sedangkan kaum atheis (agnostic) mengatakan, bahwa penciptaan ini kebetulan belaka.

Saya membayangkan, seandainya Tuhan juga menciptakan makanan sebagaimana air yang tinggal mengambil di danau kapan saja, tentu kreatifitas manusia tidak akan terpicu dan peradaban akan stagnan karena kecerdasan manusia tidak berkembang. Dan ternyata, Tuhan mentakdirkan manusia harus menghargai air dan mengelolanya untuk bercocok tanam demi memperoleh makanan. Bahkan di abad 21 ini, manusia tidak hanya dituntut lebih cerdas dalam mengelola air karena populasi terus meningkat. Sebab air juga bisa menimbulkan malapetaka yang besar jika tidak dikelola dengan baik seperti pernah terjadi dalam kisah Nabi Nuh, atau menenggelamkan Fir’aun dalam kisah Nabi Musa.
• Tenaga ahli di PAM JAYA