Serba-Serbi > Berita

Optimis menatap kedepan dengan mengisinya ke banyak hal yang lebih baik. Ini berimbas ke sikap Dirut PD PAM Jaya Erlan Hidayat yang senantiasa terbuka terhadap berbagai informasi yang mencuat ke permukaan dan justru dijadikan sebagai cambuk pelecut untuk mendongkrak kinerja. Jakarta kekurang-an air tanah, tanah di Jakarta terus menurun hingga air leding di Jakarta dari PAM Jaya terkontaminasi plastik adalah beberapa persoalan yang  mengemuka ke publik dan terus dicarikan solusinya.

Regulasi dari Pemprov DKI Jakarta dan pihak berkompeten lainnya tentang larangan penggunaan air tanah terutama di beberapa kawasan seperti daerah Kuningan atau Jl HR Rasuna Said mutlak diperlukan. Lantas tudingan terkontaminasi plastik atas hasil riset dari salah satu universitas ternama di AS ternyata tidak mendasar.  Sebab partikel PAM Jaya yang rata-rata berukuran 0,1 hingga 5 milimeter dalam air yang ternyata mikroplastik itu akan tertahan pada sistem filtrasi di Water Treatment Plant (WTP) PAM Jaya. Apalagi  diperkuat dengan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No 32  tahun  2017  tentang standar baku mutu air  yang  diantaranya menyebutkan mikroplastik  tidak termasuk parameter standar air  minum di Jakarta.

“Waktu saya di PAM Jaya telah berkisar 2 tahun 2 bulan ternyata sudah berasa berkali-kali ingin bunuh diri. Artinya  apa, persoalan air di Jakarta begitu kompleks, namun itulah kami tertantang untuk memberikan pengabdian dan pelayanan terbaik. Apalagi diperkokoh dengan dukungan kuat dari  DPRD  DKI  yang  terus meminta PAM Jaya agar konsisten melayani atau memikirkan masyarakat. Jadi optimalkan pelayanan barulah sisi bisnis akan mengikuti seperti menuai keuntungan dan memberikan deviden ke pemegang saham,” jelasnya seraya membandingkan air perpipaan dan portable/drinking water yang katanya lebih terjamin aspek kesehatannya. Secara  umum air pipa di dunia, seperti juga yang dikelola PAM Jaya,  bukan langsung dikonsumsi untuk diminum. Beda dengan drinking water,  yang diproduksi swasta memang khusus untuk air langsung diminum sehingga tidak  fair membandingkannya dengan air pipa yang untuk PAM Jaya harus direbus hingga mendidih dulu baru bisa dikonsumsi.

Apa prioritas ke depan?  Pihaknya, kata dia,  berusaha konsisten untuk  menambah  jumlah air,  sehingga  upaya PD PAM Jaya yang baru dapat memasok sekitar 60 persen kebutuhan air bersih penduduk DKI Jakarta akan terpenuhi hingga mendekati angka ideal yaitu 100 persen. Langkah penambahan jumlah air itu harus diiringi dengan upaya pengurangan penggunaan air tanah, tentu dengan dukungan regulasi atau kebijakan pihak berkompeten seperti Pemprov DKI dan DPRD setempat, dan kerjasama dengan PDAM provinsi lainnya untuk menjaga kualitas aliran sungai. “Itu perencanaan ke depan yang paling realistis, karena sangat tidak masuk akal Indonesia kekurangan stok air padahal menduduki posisi ke-5 terbesar stok airnya di dunia. Mudah secara paparan teori  yang justru pelaksanaannya butuh perjuangan ekstra kerja keras,” kata ­Erlan.

Upaya mendongkrak pelayanan itu diiringi dengan beberapa langkah terobosan. Salah satunya menggaet Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta dalam bidang pendampingan hukum pada berbagai kegiatan  BUMD tersebut ke mitra kerjanya. Bersama Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) DKI Jakarta Tony T. Spontana,  pihaknya  telah menandata-ngani Memorandum of Understanding (MoU)  kerjasama dibidang  Perdata dan Tata Usaha Negara pada Maret 2017 ini.  Saat ini PAM Jaya terus melakukan ba-nyak kegiatan optimalisasi pelayanan air bersih bagi masyarakat DKI Jakarta termasuk restrukturisasi kontrak kerjasama dengan mitra swasta.

Apalagi adanya amanat Mahkamah Konstitusi (MK) yang tertuang di dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 122 Tahun 2015 tentang Sistem Penyediaan Air Minum dimana pengelolaan air bersih dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini adalah PAM Jaya sebagai bagian dari Pemda DKI Jakarta. Hal ini tentu kian menguatkan upaya PAM Jaya dalam mengelola kembali air di Jakarta. “Memang  memenuhi kebutuhan air secara profesional itu tidak semudah membalik telapak tangan. Banyak persoalan mengerucut namun kalau kita kreatif dan inovatif  maka solusi akan diperoleh, salah satunya pendamping-an hukum  untuk  mengoptimalkan pelayanan,” kata Erlan.

Ia menyadari tak mudah untuk mensinergikan visi pelayanan dengan  visi perusahaan yang kiblatnya pasti, yaitu menuai keuntungan.  Sebagai perusahaan yang merupakan ujung tombak Pemprov DKI Jakarta, pihaknya  menyadari kalau salah  satu unsur  kemakmuran di suatu daerah termasuk Jakarta adalah terpenuhinya air bersih   bagi warganya.

“Soal tarif, misalnya, harus ada subsidi silang agar roda bisnis air itu terus bergulir dan itu telah dilakukan oleh PAM Jaya yang ternyata mendapatkan dukungan penuh dari pelanggan.  Begitu pula soal menjaga kualitas air, kedepannya dengan beberapa indikator seperti kandungan senyawa dalam air atau Total Dissolved Solids/TDS dan tingkat kekeruh­an atau Nephelometric Turbidity Unit/NTUnya kian membaik. Mengoptimalkan pelayanan  itu mutlak diperlukan dukungan dari  berbagai pihak,” katanya seraya menekankan penyelenggara pemerintah, mulai dari pusat hingga ke ta­taran RT/RW,  terus  membaik  yang salah satu indikasinya adalah kualitas lingkungan hidup yang kian bersih. TP.

Sumber http://www.majalahtrias.com/memenuhi-kebutuhan-air-bersih-secara-profesional.html



Tweet




Copyright © 2015, PAM JAYA